Palopo Media

Media Informasi Terkini

URL Berhasil Disalin
Bisnis

Tingginya Potensi Tambang di Luwu Raya Hingga Peran PT Vale dalam Reklamasi dan Rencana Pascatambang

Editor
Tingginya Potensi Tambang di Luwu Raya Hingga Peran PT Vale dalam Reklamasi dan Rencana Pascatambang
Foto: vale.com

PALOPOMEDIA.COM – Pertambangan dapat dikatakan sebagai tulang punggung pembangunan bagi Indonesia.

Pertambangan dinilai mempunyai kapasitas sebagai salah satu penggerak penting (prime mover) bagi pembangunan nasional utamanya di Luwu Raya.

Bahkan dengan tingginya potensi pertambangan di wilayah Luwu Raya dianggap mampu memberi kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat.

Diketahui, di Luwu Raya sendiri potensi tambang tersebar di sejumlah kabupaten/kota diantaranya, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Timur, dan Kota Palopo.

Akan tetapi, menurut Ir. Mulyanto Soerjodibroto, PhD., dalam Kuliah Khusus Pertambangan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), di Jakarta (16/10/2020) lalu, kegiatan pertambangan juga memiliki dampak bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

“Masyarakat sekitar tambang sudah seringkali menyampaikan keprihatinannya karena lahan yang sudah dipakai nanti tidak bisa di gunakan sehingga mereka mendapat warisan yang tidak bisa diapa-apakan,” katanya dikutip dari pushep.or.id, Minggu (15/08/2021).

Olehnya itu, perusahaan tambang tentunya wajib melakukan reklamasi yang merupakan bagian dari Rencana Pascatambang.

Reklamasi dan Rencana Pascatambang

Foto: vale.com

Salah satu perusahaan tambang di wilayah Luwu Raya, PT Vale Indonesia berkomitmen melaksanakan reklamasi yang merupakan bagian dari Rencana Pascatambang (RPT) sesuai Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pascatambang.

Dikutip dari portal vale.com, PT Vale Indonesia melaksanakan rehabilitasi lahan sudah dimulai sejak pembukaan lahan.

Hal itu diterapkan dalam rangka menjaga total luasan lahan tambang terbuka di bawah 1.450 ha.

“Rehabilitasi lahan pascatambang dilakukan dengan sistem penimbunan atau backfilling, menggunakan lapisan tanah pucuk dan lapisan tanah lainnya dari proses pengupasan lahan,” tulis PT Vale Indonesia dalam portal vale.com.

Bahkan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi tersebut, PT Vale mendirikan kebun bibit modern (nursery) seluas 2,5 hektar yang telah beroperasi sejak April 2006.

Nursery itu memproduksi berbagai jenis tanaman asli setempat (native species) dan tanaman endemik yang merupakan bagian dari konservasi keanekaragaman hayati.

Tak hanya itu, sebelum melakukan kegiatan penambangan, PT Vale juga memastikan terlebih dahulu tidak ada spesies fauna maupun flora dilindungi yang ditemukan di lokasi penambangan.

“Kami berkolaborasi dengan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dalam menyusun Dokumen Panduan Pengelolaan Biodiversiti Berkelanjutan,” tulisnya.

Profil PT Vale Indonesia

Foto: vale.com

Untuk diketahui, PT Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan produk akhir berupa nikel dalam matte. Rata-rata volume produksi nikel per tahun mencapai 75.000 metrik ton.

PT Vale Indonesia sendiri hingga saat ini telah membuka empat lokasi pertambangan di tiga Provinsi yang ada di Sulawesi.

Keempat lokasi tambang tersebut yakni Sorowako, Sulawesi Selatan dengan luas 70,566 ha, kemudian Bahodopi di Sulawesi Tengah dengan luas 22,699 ha, dan Suasua serta Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang masing-masing memiliki luas 4,466 dan 20,286 ha.

Laporan: Wartawan palopomedia.com / Eko Prasetyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten